|
|
|
|
IDAHO 2009 |
|
Semakin banyak organisasi LGBT mulai merayakan IDAHO [International Day Against Homophobia], bukan saja di Jakarta tetapi juga di luar ibukota, seperti di Surabaya, Yogyakarta, Makassar.
JAKARTA
Organisasi yang ikutserta pada peringatan IDAHO 2009 adalah: Ardhanary Institute [lesbian], Arus Pelangi [LGBT], Forum Komunikasi Waria [trans], Institut Pelangi Perempuan [lesbian], Our Voice [gay], Srikandi Sejati Foundation [trans]. Seruan tahun ini adalah “Satukan Tangan, Rayakan Keragaman”. |
|
|
|
| Sebagai kegiatan utama diselenggarakan aksi damai pada Sabtu 16 Mei. Aksi ini berlangsung di Bunderan HI, tentunya setelah memperoleh izin dari pihak kepolisian.
Namun dampak dari stigma dan diskriminasi masih sangat nyata; peserta aksi damai ini tidak mencapai 100 orang karena sebagian besar LGBT masih ketakutan. Banyak peserta menggunakan topeng agar tidak dikenali. Ancaman dari pihak-pihak tertentu tidak bisa dipungkiri. Walau demikian mereka berusaha berperan seceria mungkin. Demi mengulurkan tangan ke pada peminat, mereka dibagikan bunga dan selebaran aksi IDAHO. Semua menerimanya dengan senang hati.
|
 |
 |
| Pada hari Sabtu 24 Mei sebuah perayaan di Apollo Bar diselenggarakan dengan pertunjukan dari masing-masing kelompok gay, lesbian dan waria. Dancing, lipsync dan teater membawa malam ini ke puncak kegembiraan. Jarang-jarang kelompok lesbian, gay dan waria bisa membaur dalam satu acara.
Dua diskusi publik melengkapi perayaan IDAHO tahun ini. Yang pertama diselenggarakan pada 27 Mei dengan judul "Peran Keluarga dalam Membangun Eksistensi Diri LGBTIQ sebagai Bagian dari Hak Asasi Manusia". Prita Laura sebagai orangtua dari seorang LGBTIQ pun menceritakan bagaimana proses ketika anaknya mengakui akan orientasi seksualnya yang berbeda dan memperkenalkan pacarnya kepada Prita. Sebagai orangtua, Prita tidak bisa men-judge pilihan anaknya dan memaksakan kehendaknya, baginya apapun yang menjadi pilihan anaknya terus didukung dan selalu mengarahkan untuk bertindak positif. Diskusi ini dihadiri oleh sekitar 50 orang. |
 |
 |
|
Pada 28 Mei terjadi diskusi publik kedua; kali ini bukan kelompok LGBT yang menyelenggarakannya tetapi kelompok mahasiswa UIN. Para hadirin sekitar 300 mahasiswa memadati ruang pertemuan. Acara diisi oleh 3 narasumber: seorang gay, Stanley Prasetyo dari KomnasHAM dan M.Guntur Romli. Ketidakpahaman para hadirin tentang fenomena homoseksualitas jelas terdengar dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan: kenapa bisa jadi gay? Sesuatu yang tidak normal kan tidak usah dibela? Homoseksual kan sama dengan pedofilia? Syukur para narasumber Stanley dan Guntur berhasil menjelaskan dan meluruskan pandangan mereka dengan menggunakan sudut pandang sosial-historis dan HAM. Memang tidak semua hadirin sudah bisa menerima homoseksual, namun kesempatan ini merupakan langkah awal yang bagus. |
 |
 |
|
YOGYAKARTA
Telah menjadi satu kebanggaan tersendiri bahwa kota dimana lahirnya Prinsip-prinsip Yogyakarta juga mempunyai kelompok-kelompok LGBT yang sangat aktif dan beragam. Yogya juga mengalami tindak kebencian dan kekerasan terhadap LGBT yang paling buruk, ketika acara' Kerlap-Kerlip Warna Kedaton' diserang dan dibubarkan oleh kelompok agama garis keras pada tahun 2000. Dengan tepat Jaringan LGBT Yogyakarta memilih tema 'Jangan Ada Kekerasan Dalam Keberagaman' untuk merayakan IDAHO 2009 bersama.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan acara diskusi publik di gedung PWNU. Dalam diskusi ini narasumber I adalah seorang ibu (Ibu Miyyatun) yang anaknya adalah waria (Tika Aurora) menuturkan pengalaman saat-saat proses penerimaan sampai akhirnya mendukung anaknya karena anaknya ternyata seorang yang proaktif dalam kegiatan sosial seperti terlibat di beberapa LSM dan Komunitas, dan dalam bidang agama Tika ikut aktif dalam kepengurusan Pondok Pesantren Waria (yang difatwakan haram oleh Muhammadiyah).
Narasumber berikut adalah seorang dosen psikologi UGM, Ira Pramastri, yang menuturkan mengenai homoseksual dari teori sampai fakta. Banyak penjelasan dari Ira secara keilmuan tapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya homoseksual sudah dikeluarkan dari Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa dan bagaimana seharusnya kita menyikapi homoseksual. Ira juga memberikan gambaran bagaimana para akademisi psikologi yang seharusnya mampu mengubah pola pikir masyarakat masih terjebak dalam bisa homophobia. |
|
|
Pada 17 Mei aksi damai yang diawali dengan konperensi pers menghadirkan tiga orang narasumber dari yang mewakili komunitas yang berbeda; Sonya (transgender/ transseksual), Bibie (gay), Deo (lesbian). Ketiganya membacakan pernyataan sikap yang menentang adanya stigma dan diskriminasi terhadap LGBTIQ, termasuk yang dilakukan oleh media dengan tayangan-tayangannya yang masih bias (Be a Man). Banyak media massa yang meliput kegiatan ini, terutama karena aksi teatrikal yang digelar oleh mahasiswa MMTC.
Aksi damai kemudian dilanjutkan dengan pembagian stiker dan leaflet kepada pengguna jalan di sekitar perempatan Kantor Pos Besar. |
|
|
|
Kegiatan lain adalah Pameran Foto dan Panggung Keberagaman yang diisi dengan penampilan seni dari beberapa lembaga seperti PLU, Eben Ezer, Sanggar Seni Waria Kotagede, Vesta, BBB, PKBI DIY, maupun penampilan seni dari individu (komunitas LGBTIQ). Panggung keberagaman ini sebenarnya bukan acara inti dari peringatan IDAHO namun justru lebih menarik banyak orang.
SURABAYA
Di kota terbesar kedua ini diadakan acara di ruang terbuka pada 17 Mei
yang diselenggarakan oleh GAYa Nusantara, Us Community, PERWAKOS, IGAMA dan 14 LSM lain. Dengan tema 'Bersama, Beragam Tiada Batas' acara ini menampilkan Bazar NGO, talkshow, film screening and ‘edutainment’. |
|
|
|
Di dalam talkshow ini narasumber yang terdiri dari seorang waria, Napza dan aktivis perempuan membagi pengalaman mereka bagaimana mereka pertama kali mengenali dunia LGBT dan mulai bekerjasama dengan kelompok LGBT tersebut. Selanjutnya acara diisi dengan pementasan seni dari berbagai kelompok trans, gay, lesbian: teater, dance, lipsync dll. |
 |
 |
|
Puncak perayaan IDAHO di Surabaya diisi dengan acara talkshow "Nyelathu Show"/JTV yang membahas peringatan IDAHO. Gay, lesbian dan waria yang diundang secara blak-blakan menceritakan seksualitas, gaya hidup, pacaran dan coming-out mereka. Tanggapan dari pemirsa tidak semuanya positif namun hal itu bisa dimaklumi.
MAKASSAR
Kelompok-kelompok LGBT di Makassar pertama melakukan fundraising dengan acara budaya 'Bazar Kebersamaan dalam Keragaman' di Quadro Café, on 8 Mei 2009. |
 |
 |
Aksi Damai dengan tema ”Satukan Tangan, Rayakan Keberagaman” pada 17 Mei 2009.
Aksi ini membagi-bagikan brosur dan bunga mawar yang bertempat di seputar Jl. Ratulangi, Makassar.
Pada 18 Mei 2009 malam diadakan Candlelight Memorial ”Together, we are the solution” di Monumen Mandala, Jl. Jend. Sudirman Makassar. Malam Renungan AIDS ini berupa aksi Penyalaan lilin, pembagian brosur dan pernyataan sikap dari semua elemen mahasiswa/siswi SMA, LSM dan masyarakat, serta teater, pembacaan puisi dan doa bersama. Aksi ini melibatkan kurang lebih 40 orang. |
Komentar anda:
|
|
|
|